Rabu, 23 November 2011

Kaligrafi Ongkara, Dasa Bayu dan Semar dalam Budaya Bali


KALIGRAFI DALAM BUDAYA BALI
Nyoman Adiputra
Fakultas Kedokteran Universitas Udayana
Anggota Bali-Human Ecology Study Group (Bali-HESG)
Abstrak
Kehidupan berkesenian dalam masyarakat Bali dapat dirunut dari bukti peninggalan susastra atau warisan budaya lainnya. Kehidupan kesusastraan di Bali dapat dibuktikan lewat ribuan lontar yang ada. Berbagai pengetahuan tradisional dikandung dalam lontar-lontar tersebut. Salah satunya dapat ditelusuri adalah bentukan kaligrafi. Dalam tulisan ini diajukan dua bentuk kaligrafi, yaitu kaligrafi berbentuk Dasa Bayu dan kaligrafi Semar. Analisis strukturalisme dan fungsional diterapkan dalam studi ini. Kedua contoh kaligrafi tersebut mempunyai struktur dan fungsi yang khas. Kaligrafi Dasa Bayu sebagai produk budaya berfungsi sebagai alat bantu untuk mempermudah ingatan dalam merafalkan Dasa Bayu. Dasa Bayu sendiri mempunyai nilai magis dan kekuatan yang luar biasa secara niskala yang dapat dipakai dan dimanfaatkan sesuai dengan kehendak si pemakai. Sedangkan kaligrafi Semar berfungsi memberikan pencerahan dan kesadaran agar manusia selalu ingat dan waspada bahwa dalam mempelajari ilmu ke-Tuhan-an supaya betul-betul membersihkan diri dan melaksanakan trikaya parisuda tanpa cela. Dengan demikian tujuan akhir yang diinginkan akan mendapat anugrah dari Tuhan. Anugrah tersebut bisa dipakai untuk menolong orang lain dalam tujuan positif. Fungsi lainnya ialah keindahan itu sendiri. Dengan mengatur menjadi bentukan seperti itu (Dasa Bayu dan Semar) diharapkan memang ada unsur artistik yang dapat dinikmati oleh mereka yang peduli dalam masalah kesenian. Dengan demikian disimpulkan bahwa kaligrafi ada dalam budaya Bali, dengan menampilkan dua buah contoh. Diharapkan ada studi lanjutan yang akan dapat melaporkan bentukan kaligrafi lainnya dalam budaya Bali.
Kata kunci: kaligrafi, budaya Bali, Dasa Bayu, Semar
CALLIGRAPHY IN BALINESE CULTURE
Abstract
From the cultural heritages in Bali it could be traced the existence of art live in Bali. Lontar as a product of Balinese culture, it is found so many in Balinese society. There are many subject of knowledge in lontar; and one of the subject is about the calligraphy. In this article it is reported two kinds of calligraphy such as Dasa Bayu and Semar calligraphy. Structural and functional analysis were applied. Dasa Bayu calligraphy as a product of Balinese culture, it functions as a mean to memorize the elements of Dasa bayu. Dasa Bayu has a magic and extra-ordinary, supra natural power that could be used for helping others. In another hand Semar calligraphy composed by Balinese letters. They make one sentence composed by ten old Javanese words. The function is to remind every body who are in the period of study about the traditional knowledge should always keep his/her body in a very clean condition, physically and spiritually by applying the trikaya parisuda. By doing that the goals of study could be achieved. The result of study then could be used for helping others in a positive sense. Other function of the calligraphy is artistic one. Therefore, it is concluded that there is calligraphy in Balinese culture, by presenting two examples. It is recommended that further study is needed to explore more example of Balinese calligraphy.
Key words: calligraphy, Balinese culture, Dasa Bayu, Semar
Pendahuluan
Kebudayaan Bali adalah produk masyarakat Bali secara kolektif dan berkelanjutan. Budaya Bali terbina sejak manusia Bali ada, akan terus tumbuh dan berkembang sesuai dengan kehidupan manusia Bali. Kehidupan berkebudayaan mencirikan manusia Bali mempunyai suatu tradisi baik yaitu tradisi sastra dan tradisi karya. Dengan tradisi tersebutlah maka sekarang dapat diwarisi berbagai bentuk produk budaya seperti pengetahuan tertulis dalam lontar dan tinggalan arkheologis lainnya.
Kebudayaan Bali dapat dipilah-pilah menjadi beberapa subkomponen seperti kesenian, pekerjaan profesional, bahasa, pemanfaatan dan apresiasi waktu, upakara dan upacara, dan lainnya. Produk dalam berkesenian tersebut berupa seni tabuh, seni lukis, seni grafis, seni tari, seni pahat dan lain-lainnya. Tulisan ini berusaha untuk mengungkapkan salah satu dari produk berkesenian masyarakat Bali yaitu kaligrafi.
Kaligrafi pada mulanya didominasi oleh kaligrafi islam. Malahan dikatakan bahwa kaligrafi sebagai lambang persatuan muslimin (Anonim, 2005a, b) atau paling tidak cerminan budaya islam (George, 2004). Walaupun hal itu kurang tepat karena kaligrafi berasal dari bahasa Yunani: kalli berarti keindahan, dan grapos berarti menulis (Anonim, 2005c.). Dengan demikian kaligrafi berarti produk seni menulis yang indah. Memang di Indonesia, kaligrafi dikatakan bernafaskan Islam karena tulisan-tulisan yang dibuat diambil dari Al-Qur’an yang ditulis dengan pena di atas kertas, tetapi tidak jarang tulisan ditatahkan di atas logam atau kulit (Anonim, 2005.b).
Memang melalui seni kaligrafi, diyakini oleh para pakar sangat efektif dalam menciptakan dan menggalang solidaritas kebudayaan berbagai kaum dan bangsa di dunia, dan tidak terbatas kepada dunia Islam saja (Nawi, 2005). Kaligrafi juga menyebabkan terkekalkannya ungkapan-ungkapan lisan manusia dan terjaganya pandangan-pandangan dan pendapat mereka menjadi peninggalan abadi karya manusia (Anonim, 2005.b).
Pelaksanaan pameran gabungan kaligrafi dan kebudayaan antarbangsa beberapa waktu lalu di Kualalumpur, Malaysia, membuktikan bahwa kaligrafi adalah produk universal bersifat lintas-agama, dan lintas-etnis. Peran kaligrafi dalam kebudayaan masing-masing bangsa dan suku bangsa perlu ditonjolkan sehingga dikenal dan dicintai oleh masyarakatnya. Hal itu harus mendapat perhatian semua pihak, karena kaligrafi merupakan salah satu unsur kebudayaan bangsa.
Untuk masyarakat Bali, apakah itu berlaku? Untuk menjawab hal itu maka studi literatur dilakukan dan diperoleh jawaban bahwa kaligrafi ada dalam budaya Bali yang bernafaskan Agama Hindu.
Materi dan metode
Materi. Sebagai materi dalam tulisan ini bahan terbitan yang mengulas budaya Bali dan memakai gambar sebagai wahana penyampaian informasinya. Dari sumber yang diteliti diperoleh dua buah gambar; gambar pertama diperoleh dalam sumber Dnyana Siddanta; sedangkan gambar kedua diperoleh dalam catatan seorang penekun ilmu kedyatmikan dari Buleleng. Sedangkan gambar ketiga yaitu gambar swastika dengan ong-kara di titik sentralnya, diperoleh dari bendanya yang dijual sebagai tanda cendera mata dalam gerakan dana punia pembangunan pura di salah satu tempat di Jawa Tengah
. Sebagai materi dalam tulisan ini bahan terbitan yang mengulas budaya Bali dan memakai gambar sebagai wahana penyampaian informasinya. Dari sumber yang diteliti diperoleh dua buah gambar; gambar pertama diperoleh dalam sumber ; sedangkan gambar kedua diperoleh dalam catatan seorang penekun ilmu dari Buleleng. Sedangkan gambar ketiga yaitu gambar dengan di titik sentralnya, diperoleh dari bendanya yang dijual sebagai tanda cendera mata dalam gerakan dana punia pembangunan pura di salah satu tempat di Jawa Tengah
Metode. Kedua gambar tersebut diupayakan diulas dan dicari arti serta maknanya sesuai dengan pengetahuan umum atau sesuai dengan apa yang dimaksud penciptanya. Tentu-nya pedoman dalam penafsiran tersebut adalah sumber tertulis yang ada.
Kedua gambar tersebut diupayakan diulas dan dicari arti serta maknanya sesuai dengan pengetahuan umum atau sesuai dengan apa yang dimaksud penciptanya. Tentu-nya pedoman dalam penafsiran tersebut adalah sumber tertulis yang ada.
Analisis. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif saja tanpa melibatkan statistik inferensial.
. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif saja tanpa melibatkan statistik inferensial.
Hasil-hasil
Sesuai dengan batasan di atas maka telah diperoleh dua gambar yang ditafsirkan sebagai kaligrafi Bali. Gambar yang dimaksud ialah Dasa Bayu; Gambar Semar; dan Ong-kara.
1) Dasa Bayu
Wujud dalam bentuk gambar dari Dasa Bayu tersebut seperti di bawah ini. Ada 10 unsur yang menjadi simbul dari Dasa Bayu. Simbul tersebut adalah (Haryati Soebadio, 1971):
I, sebagai perwujudan dari Sanghyang Sadasiwa;
, sebagai perwujudan dari ;
Ha, sebagai perwujudan dari Sanghyang Wisnu;
, sebagai perwujudan dari ;
Ka, sebagai perwujudan dari Sanghyang Mahadewa;
, sebagai perwujudan dari ;
Sa, sebagai perwujudan dari Sanghyang Brahma;
, sebagai perwujudan dari ;
Ma, sebagai perwujudan dari Sanghyang Iswara;
, sebagai perwujudan dari ;
Ra, sebagai perwujudan dari Sanghyang Maheswara;
, sebagai perwujudan dari ;
La, sebagai perwujudan dari Sanghyang Rudra;
, sebagai perwujudan dari ;Wa, sebagai perwujudan dari Sanghyang Sangkara;
Ya, sebagai perwujudan dari Sanghyang Sambhu; dan
, sebagai perwujudan dari ; dan
U, sebagai perwujudan dari Sanghyang Sadasiwa.
, sebagai perwujudan dari .
Menurut Nala (1991) dasa bayu juga ada dalam lontar usadha Bali. Unsur dasa bayu yang digambarkan menjadi kaligrafi terdiri dari sepuluh elemen. Elemen-elemen tersebut termasuk (Nala, 1991; Adiputra, 2004):
1) nada, simbul dari bintang (Sanghyang Tranggana);
2) windu, simbul dari matahari (Sanghyang Surya);
3) arda-candra, simbul dari bulan (Sanghyang Wulan);
4) Ong-kara, simbul dari dari Sanghyang Widi Wasa;
5) Ing-kara, simbul dari Sanghyang Sadasiwa;
6) Ang-kara, simbul dari Sanghyang Wisnu;
7) Ksa, simbul dari Sanghyang Mahadewa;
8) Mra, simbul dari Sanghyang Sangkara;
9) Lwa, simbul dari Sanghyang Rudra; dan
10) Yeng, simbul dari Sanghyang Sambhu.
Gambarnya adalah sebagai berikut:


2) Semar
Gambar semar yang dimaksud ternyata kalau diperhatikan secara teliti dan seksama disusun juga oleh aksara Bali. Aksara Bali tersebut dirangkai sedemikian rupa sehingga membentuk kalimat: bayasira arsa mardi kamardikan aywa samar sumingkiring dur kamurkan. Kalau dipilah-pilah maka kalimat dengan aksara Bali tersebut terdiri dari kata-kata atau kalimat sebagai berikut:
1) baya sira artinya kalau saudara;
2) arsa artinya berniat;
3) mardi artinya berbuat;
4) kamardikan artinya mendapatkan kebebasan;
5) aywa artinya jangan;
6) samar artinya ragu-ragu;
7) sumingkiring artinya menyingkirkan atau meniadakan;
8) dur artinya segala sifat dan perilaku jahat;
9) kamurkan artinya kemarahan dan sejenisnya.
 


3) Ong-kara
Dalam tulisan ini ong-kara diasumsikan sebagai salah satu bentuk kaligrafi Bali. Melihat bendanya, dan fungsinya ong-kara, paling tidak memenuhi kriteria dari kaligrafi Bali. Di bawah ini disajikan kaligrafi yang dimaksud. Bentuk kaligrafi Ong-kara tersebut sudah dijual sebagai pertanda tali kasih dalam gerakan dana punia pembangunan pura di daerah Jawa tengah. Setiap orang yang bersedia menjadi donatur dalam jumlah tertentu, mendapatkan sebuah bentuk kaligrafi. Kaligrafi tersebut dapat dipasang di dinding atau tembok. Gambarnya berupa Ong-kara di bagian paling tengah, kemudian lapis kedua gambar swastika. Bagian paling luar bingkai berbentuk segi lima. Diharapkan dengan menggantung kaligrafi tersebut, didapatkan vibrasi kerohanian yang tentunya akan memberikan dampak kepada semua isi rumah dimana kaligrafi itu berada. Logikanya, setiap individu melihat kaligrafi tersebut akan membaca dan melafalkannya menjadi Ong. Itulah wujud nyata dari pemasangan kaligrafi tersebut.

 
Pembahasan
1) Dasa Bayu
Kaligrafi Dasa Bayu didapatkan dalam buku Jnana Siddhanta (Soebadio, 1971). Di samping itu didapatkan pula dalam bukunya Dr Weck yang berjudul: Heilkunda auf Bali. Menurut Nala (1991) kaligrafi itu terdapat juga dalam lontar Usadha Cukil Daki.
Kaligrafi tersebut disusun oleh berbagai huruf. Strukturnya terdiri dari beberapa huruf dan dibingkai oleh aksesori huruf Bali naniya dan guwung. Dengan bingkai tersebut tampak sebagai suatu kesatuan dengan beberapa huruf yang ternyata adalah dasaaksara bergantungan membentuk ucapan seperti di atas. Secara individual maka dibaca I, Ha, Ka, Ma, Ra, Sa, La, Wa, Ya , dan U. (Soebadio, 1971). Jumlah seluruhnya sepuluh, sebagai simbol perwujudan dari sepuluh dewata. Tetapi kalau kaligrafi tersebut dihubungkan dengan dasaatma maka pembacaan dari kaligrafi ini berbeda (Soebadio, 1971). Kedua aspek di atas merupakan isi informasi yang ingin disampaikan oleh si pengarangnya (Nawi, 2005).
Unsur kedua dari kaligrafi dasa bayu adalah keindahan atau kehalusan seninya (Nawi, 2005). Dengan keterampilan khusus, maka ujung-ujung huruf yang dilukiskan tersebut mampu mengikat semua komponen menjadi satu kesatuan produk. Untuk menafsirkan produk tersebut diperlukan imaginasi dalam dalam memilah-milah komponen tersebut. Kalau tidak memahami aksara Bali dengan baik, maka pasti ada kesukaran dalam membaca gambar tersebut.
Dalam menapsirkan elemen dasa bayu tersebut jelas ada sedikit perbedaan antara yang ditulis oleh Soebadio (1971). Dalam bukunya itu simbol untuk Sanghyang Sadasiwa ditulis dua kali, yaitu untuk I (untuk Ing-kara) dan U (untuk Ung-kara). Kemungkinan besar itu salah ketik, dimana untuk Ing-kara simbol Sanghyang Sadasiwa sedangkan Ung-kara sebagai simbul Sanghyang Siwa.
2) Semar
Makna dari kaligrafi Semar tidak bisa diulas secara jelas. Dalam tulisan ini hanya diinterpretasikan saja. Apakah betul si penggagas yang mempunyai ide asli dalam mewujudkan kaligrafi tersebut? Kemudian mengapa memakai untaian kata-kata seperti itu? Kembalilah disini adanya kebebasan seseorang seniman untuk memakai haknya dalam berkreativitas dalam bentuk gambar atau tulisan untuk mengungkapkan pikirannya (Anonim, 2005.a). Kata-kata tersebut dibuat menjadi pembatas suatu gambaran yang menyerupai semar; dengan mengatur serta menyusun sedemikian rupa sehingga secara sekilas tampak seperti gambaran biasa. Akan tetapi kalau dilihat secara perlahan dan teliti, maka untaian huruf Bali tersebut membentuk kalimat yang mempunyai arti tersendiri. Untaian kata-kata mutiara tersebut seolah-olah memberikan suatu nasehat kepada si apa saja yang menekuni ilmu ke-Tuhan-an (kedyatmikan). Intinya ialah bahwa membersihan diri secara sakala dan niskala adalah kunci keberhasilan belajar ilmu tersebut. Karenanya nasehat tersebut harus secara berkesinambungan diperdengarkan terus sehingga perilaku sopan dan tidak berdusta menjaid perilaku keseharian seorang yang mengabdikan diri kepada kebajikan atau pengamal ilmu kediyatmikan. Dalam hubungan kasus ini maka gambar tersebut memberikan nasehat atau peringatan, mungkin ditujukan kepada orang yang membacanya atau mungkin juga sebagai peringatan kepada yang membuatnya, agar supaya selalu melaksanakan trikaya parisudha.. Sebagai suatu produk seni, maknanya juga dapat dipakai oleh setiap orang.
Unsur seni dalam gambar semar tersebut juga menimbulkan adanya variasi aksara Bali yang dipakai. Dalam batas toleransi tertentu dan untuk menjaga unsur seni tersebut, kembali diasumsikan bahwa area tersebut merupakan hak si pengarang. Ada pembatas dalam hal itu yaitu misi yang dikandung (supaya menyerupai semar), dan bentuk baku aksara Bali yang dipakai, serta tempat yang tersedia (sehingga membentuk hubungan) menjadi satu kesatuan. Dari pembatas tersebut dikreasikan suatu bentuk yang akan mampu membawa informasi sesuai dengan apa yang ingin dikemukakan oleh si pengarangnya (Nawi, 2005).
Melihat dan menganalisis gambar semar tersebut, penulis yakin bahwa gambar tersebut tergolong ke dalam seni kaligrafi dan dapat dipakai menggalang solidaritas kebudayaan Indonesia, bahkan kebudayaan dunia, sebagaimana dikemukakan dalam Perspektif (Anonim, 2005.a). Dengan terlukiskannya menjadi gambar semar maka paling tidak hasil kreasi ide menjadi terkekalkan dan menjadi peninggalan karya abadi manusia si pengarangnya. Hal itu juga salah satu fungsi dari kaligrafi (Anonim, 2005.a). Semar adalah salah satu perwujudan insan yang mempunyai jiwa abdi yang sangat setia, bhakti, serta mampu menyadarkan kembali boss-nya kalau si boss dalam keadaan bimbang dan ragu untuk bertindak membela kebenaran. Itulah simbul dunia pewayangan. Mungkin itu pula yang dipakai mengapa gambar semar yang dipilih oleh si pengarang.
3) Ong-kara
Mengenai kaligrafi ong-kara terbuka untuk didiskusikan. Jelas si pencipta memakai ong-kara sebagai titik sentral dari gambar swastika tentu ada maksudnya, mengandung informasi dan ada unsur seni. Dengan ketiga acuan tersebut jelas bahwa gambar tersebut dapat digolongkan ke dalam seni kaligrafi (Anonim, 2005.a,b). Demikian pula fungsinya. Ong-kara mempunyai fungsi khusus dalam aksara Bali (Tinggen, 1994; Simpen, tt; Tonjaya, 2000; Nyoka, 1994 Adiputra, 2002; Dinas Kebudayaan Bali, 2001), sehingga tidak bisa digunakan secara sembarangan. Ong-kara ada dalam aliran Siwa maupun Buda (Hooykaas, 1973). Demikian pula dalam lontar Aji Saraswati (tt) dituliskan tatacara menulis, menyalin, mulai membaca serta mengakhiri membaca lontar. Karena aksara Bali dianggap suci (pingit). Peringatan tersebut dalam rangka mendidik dan membina si pembaca atau manusia pendukungnya supaya berperilaku yang selalu baik menurut ajaran agama, yaitu trikaya parisuda (Nala & Wiriatmadja, 1991). Penulis menginterpretasikan fungsinya adalah memberikan suatu kesadaran akan rasa selalu ingat kepada Ida Sanghyang Widi dan waspada pada diri sendiri sebagai mahluk Tuhan, mana kala melihat gambar tersebut. Itulah nilai informasi yang ingin disampaikan; sudah tentu fungsi kedua dari sudut keindahan/ kehalusan seninya, sebagaimana ditulis oleh Nawi (2005). Kemungkinan ketiga, diharapkan dengan memasang gambar tersebut akan mendapat aura gaib dan memberikan perlindungan kepada orang atau area sekeliling gambar tersebut. Paling tidak pihak yang melihat dan membacanya menjadi sadar bahwa di situ tuan rumah mempunyai dimensi spiritualitas.
Dari uraian di atas dapat ditarik simpulan sebagai berikut: 1) kaligrafi ada dalam kebudayaan Bali, yang dalam tulisan ini dipakai contoh tiga buah yaitu: dasa bayu, gambar semar, dan ong-kara; dan 2) ketiga produk seni kaligrafi tersebut mengandung nilai seni-estetika, informasi, serta dokumentasi produk pemikiran manusia.
Di masa mendatang perlu diupayakan untuk menggali lebih banyak lagi produk seni kaligrafi yang ada dalam budaya Bali, sehingga dapat diketahui masyarakat umum atau bahkan masyarakat dunia. 

Daftar Kepustakaan
Adiputra, N. 2004. The Magical Aspect of Aksara Bali. Majalah Dinamika Kebudayaan.
Vol. VI, No.1, 2004.
Adiputra, N. 2002. Aksara Bali in the Changing world. Proceeding of the International Seminar on Culture in the Changing World; join seminar between the University of Anti Och, Seatle USA with the Bali-HESG, School of Medicine Udayana University, Denpasar.
Anonim. 2005.a. Seni Kaligrafi, Lambang Persatuan Muslimin. Perspektif. Juni 2005. http://www.irib.ir/worldservice/melayuRADIO/perspektif/2005/juli2005/kaligrafi.htm. Diakses pada tgl.11-8-2005.
Anonim. 2005.b. Kaligrafi. http://id.wikipedia.org/wiki/Kaligrafi. Diakses pada tgl: 11-8-2005.
Anonim, t.t. Lontar Tutur Sanghyang Aji Saraswati.
Dinas Kebudayaan Propinsi Bali. 2001. Kekawin Arjuna Wijaya lan teges ipun.
Ginarsa, K. tt. Gambar lambang. Proyek Pemeliharaan dan Pengembangan Kebudayaan Daerah Bali. Yayasan Darma Budaya.
George, Kenneth M. 2004. Unsur Kaligrafi: On Aceh, Islamic Art, and the terrain of Indonesian multiculralism. Jurnal Antropologi Indonesia. XXVIII No.75, September –December 2004. (Abstrak).
Haryati Soebadio. 1971. JNANASIDDHANTA. Bibliotheca Indonesica. Koninklijk Instituut Voor Taal-, Land- en Volkenkunde. 7. The Hague – Martinus Nijhoff.
Hooykaas, C. 1973. BALINESE BAUDDHA BRAHMANS. Verhandelingen der Koninklijke Nederlandse Akademie van Wetenschappen, afd Letterkunde Nieuwe Reeks, Deel 80. North Holland Publishing Company- Amsterdam.
Nala, N. Usada Bali. 1991. Penerbit Upada Sastra. Denpasar.
Nala, N. Dan Wiriatmadja, IGK.1991. Murddha Agama Hindu. Penerbit Upada sastra. Denpasar.
Nawi, Hartini Mohd. 2005. Seni Kaligrafi merentasi budaya. http://www.hmetro.com.my/Current_News/HM/Tuesday/Komuniti/20050621095348/Artic... Diakses pada tgl. 11-8-2005
Nyoka. 1994. KRAKAH MODRE II. Percetakan dan Toko buku RIA. Denpasar.
Simpen, W. tt. Pasang Aksara Bali. Upada Sastra. Denpasar
 Tonjaya, N.N. 2000. TUMBAL RERAJAHAN. Penerbit dan Toko Buku RIA. Denpasar
Tinggen, I N. 1994. Celah-celah Kunci Pasang Aksara Bali. Penerbit Rhika Dewata Singaraja.
Disalin langsung dari sumbernya.
Sumber : http://www.balihesg.org/index.php?option=com_content&task=view&id=359&Itemid=28 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar